HUMBAHAS, ASPIRASInews – Bencana alam dahsyat yang terjadi di Desa Simangulampe, Kec Baktiraja, Kab Humbang Hasundutan, pada Desember 2023 silam, merenggut sebanyak 12 orang korban jiwa akibat tertimbun longsor dan banjir besar.
Akibat kejadian itu, korban yang berhasil ditemukan hanya 2 orang. Sementara, 10 orang lainnya tidak dapat ditemukan hingga akhir batas pencarian yang dilakukan oleh Tim Basarnas.
Kejadian serupa kembali terulang pada awal tahun 2025, tepatnya di Desa Tipang Kecamatan Baktiraja, dilanda banjir bandang.
Warga Desa Tipang dikejutkan dengan bencana banjir bandang yang melanda pemukiman mereka, Rabu (19/2/2025), sekira pukul 01.30 WIB.
Sebanyak 5 unit rumah warga mengalami kerusakan berat. Adapun warga yang rumahnya mengalami kerusakan, yaitu Joni Purba, Efendy Purba, Martini Hutasoit, Alden Manalu, Sorta Banjarnahor.
Kepala Desa Tipang, Juanda Sihombing kepada ASPIRASInews mengatakan, bahwa tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu.
“Korban tidak ada, tapi beberapa rumah warga mengalami kerusakan berat. Untuk sementara warga sudah kita ungsikan ke tempat yang aman,” kata Juanda.
Juanda menjelaskan, rumah warga mengalami kerusakan akibat terjangan longsor dan batu besar yang berasal dari perbukitan Tipang. Selain itu, batu-batu besar menutupi ruas jalan antara Tipang menuju Janji Raja Sitiotio, Samosir.
Sementara itu, Camat Baktiraja Sanggam Lumban Gaol saat dihubungi ASPIRASInews melalui sambungan telepon seluler, membenarkan kejadian bencana alam banjir bandang melanda Desa Tipang sehingga jalur transportasi darat menuju Desa Janji Raja Sitiotio, Samosir, tertutup total dan tidak bisa dilalui.
Sanggam Lumban Gaol mengatakan, bahwa pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Humbahas bersama TNI-Polri terjun langsung ke lokasi melakukan penyelamatan kepada para korban, serta membersihkan material longsor yang menimpa sejumlah sarana dan prasarana.
“Sampai saat ini alat berat yang diturunkan BPBD Humbahas dipimpin Kabid Darutat dan Logistik, Rikardo Sihombing, masih terus melakukan pembersihan material longsor dan batu-batu besar di lokasi kejadian,” ujar Sanggam.
Beberapa sumber ASPIRASnews yang layak dipercaya mengungkapkan, bahwa banjir bandang yang melanda Desa Tipang diduga akibat terjadinya penebangan kayu (ilegal logging).
Dalam waktu dua tahun terakhir, Kecamatan Baktiraja sudah dua kali dilanda banjir bandar. Seperti yang terjadi di Desa Tipang, diduga hal itu terjadi diakibatkan penggundulan hutan di daerah Kecamatan Lintongnihuta. | Saut Sihombing/R.01





