Akademisi Prihatin Perambahan Hutan di Karo, 10 Orang Hilang Akibat Bencana Longsor

Roy Fachraby Ginting
Roy Fachraby Ginting

KARO, ASPIRASI.news – Akibat hujan dengan intensitas yang cenderung deras, membuat terjadinya longsor yang menutup jalan Jamin Ginting. Informasi yang diperoleh, tebing yang berada di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Berastagi longsor sekira pukul 18.30 WIB.

Akibat derasnya guyuran hujan, sehingga membuat kontur tanah menjadi semakin labil hingga akhirnya longsor.

Bacaan Lainnya

Bencana longsor terjadi di wilayah pemandian air panas di Desa Semangat Gunung, Kecamatan Merdeka, Karo, Sumatera Utara (Sumut). Akibat longsor itu, 10 orang diperkirakan tertimbun material.

“Hingga kini, 10 orang masih dinyatakan hilang dan diduga tertimbun material longsor,” kata Kapolres Tanah Karo AKBP Eko Yulianto kepada wartawan.

Selain 10 orang yang dinyatakan hilang, beberapa bangunan juga rusak yakni delapan rumah warga, satu bungalow, Masjid Al-Hidayah, serta sejumlah kendaraan. Selain itu, sejumlah kendaraan juga tertimbun.

Adapun korban hilang, yakni Sehat br Surbakti (65), Elia Agustina (50), Ema Sari (26), Eliza Surbakti (4), Pia Surbakti (8), Jihan Selviani (23), Efriandri Surbakti (30), Farhan Nugraha (31) yang merupakan pegawai BRI Tanjungbalai, M Subhan Anas (40) selaku Kepala Unit BRI Tanjungbalai, dan satu orang yang belum diketahui identitasnya.

Akademisi Universitas Sumatera Utara, Roy Fachraby Ginting menyatakan keprihatinannya atas bencana tanah longsor di Kabupaten Karo dan Deli Serdang yang membuat terputusnya hubungan transportasi antara Medan ke Taneh Karo.

“Ini semua dampak dari kerusakan  hutan yang semakin parah dan pembiaran perusakan hutan selama ini,” tegasnya.

Menurut Roy, rakyat saat ini juga tidak mau peduli dan pemerintah juga melakukan pembiaran sehingga kerusakan hutan semakin besar dan luas. Hal ini tentu tinggal menunggu bencana alam yang lebih besar sudah di depan mata.

Dikatakan cendekiawan yang cukup kritis ini, hutan atau kerangen dalam bahasa Karo memiliki manfaat yang baik bagi kehidupan seluruh makhluk hidup dan termasuk kita semua.

“Nenek moyang suku Karo sejak ratusan lalu sudah memberikan perhatian dan perlindungan hutan sebagai pemberi oksigen dan juga penyerap karbon dioksida, dan menjadi sumber penghidupan masyarakat desa dengan konsep Kerangen kuta dan tapin kuta yang di jaga ketat sekali dengan memadukan kepercayaan mistis atau keramat” kata Roy Fachraby Ginting.

Roy mengingatkan, bahwa sejak dahulu masyarakat desa desa di Karo sungguh sadar bahwa hutan yang asri dan terjaga memberikan manfaat bagi kelangsungan hidup mereka dan bagi seluruh umat manusia dan juga lingkungan.

Namun saat ini sudah tidak dipungkiri lagi, bahwa kita tidak peduli lagi dengan kerusakan hutan di depan mata kita. Sungguh menjadi suatu permasalahan besar dan tentu sangat memprihatinkan dengan keserakahan kita untuk membabat hutan dan merusak hutan dan tindakan itu semua ada di depan mata.

Bagaimana tidak, sambung Roy, hutan saat ini sudah banyak yang beralih fungsi menjadi kafe dan tempat tempat wisata. Pengerusakan seakan tidak terhindarkan dan celakanya. Pemerintah yang seharusnya sebagai garda terdepan untuk melindungi hutan seakan akan diam dan tidak berkutik menyaksikan perambahan dan perusakan hutan di depan mata.

Banyak hutan di wilayah Taneh Karo Simalem dan sekitarnya seperti Deli Serdang, Langkat dan Simalungun Atas serta Dairi yang kini menjadi gundul akibat ulah manusia yang egois dan serakah dengan melakukan penebangan liar dan juga alih fungsi lahan.

“Mereka sadar atau tanpa menyadari hal ini akan menjadi sumber bencana bagi kehidupan anak cucu kita dan mulai kita rasakan saat ini dengan longsor dan banjir bandang dan tentu hal itu bukan hanya manusia yang terancam, namun juga ekosistem makhluk hidup lain akan terancam”, katanya.

Roy mengingatkan, kita seharusnya sadar bahwa hutan merupakan ekosistem kompleks yang berpengaruh pada hampir setiap spesies yang ada di bumi dan itu telah di ingatkan leluhur kita kalak Karo pentingnya kita Menjaga Kerangen Kuta dan Tapin Kuta sebagai sumber kehidupan, katanya.

Oleh karena itu, kata Roy, kita memerlukan hadir pemimpin yang ada di eksekutif dan legislatif untuk sadar bahwa bencana ekologi sudah di depan mata.

Ia berharap, perlu ada yang memimpin kita berjuang dan menyatukan kekuatan putra putri Karo yang sudah duduk di pemerintahan untuk segera bersatu untuk pendampingan rakyat dalam berjuang untuk mewujudkan aspirasi rakyat dalam melawan gerakan perambahan dan perusakan hutan yang saat ini sudah menjadi sumber bencana yang besar. | RED/RFG

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *